BKAnews – Sulit dibayangkan bagaimana rasanya menghadapi derasnya arus sungai sambil mendayung serempak, menjaga ritme, sekaligus bersaing dengan puluhan atlet terbaik dari berbagai daerah. Namun bagi Dany Juniawan, mahasiswa D4 Destinasi Wisata Universitas Merdeka Malang, tantangan tersebut bukan hanya berhasil diatasi, melainkan ditaklukkan dengan prestasi membanggakan.

Pada ajang PORPROV Jatim IX 2025, Dany sukses mempersembahkan enam medali di cabang olahraga Arung Jeram. Ia meraih emas pada nomor Head to Head R6 Putra, tiga perak di kategori Sprint R4 Putra, Head to Head R4 Putra, dan Slalom R4 Putra, serta dua perunggu pada Sprint R6 Putra dan DRR R4 Putra. Prestasi tersebut tentu lahir dari kerja kolektif. Dany tergabung dalam tim FAJI Kota Malang bersama lima atlet lain: Haikal Mahbub, Igo Saputra, Mohammad Yuda, Arya Davin, dan Mohan Anzalzaky. Mereka tampil di nomor R4 (empat orang) dan R6 (enam orang), nomor yang menuntut kekompakan, koordinasi, dan kekuatan fisik prima.

Sejak 2022, Dany sudah aktif berlatih dengan disiplin tinggi. Menjelang PORPROV, ia bersama tim menjalani latihan intens setiap hari: mulai dari fisik, teknik mendayung, hingga endurance. Setiap bulan mereka mengikuti tes fisik rutin, sambil menjaga pola makan dan jam istirahat. Namun, perjalanannya tidak mulus. Hanya sebulan sebelum kompetisi, Dany mengalami cedera jari serius yang memaksanya menjalani operasi dan istirahat penuh selama 10 hari. Situasi ini jelas berisiko, mengingat arung jeram sangat bergantung pada kekuatan tangan. Di sisi lain, sebagai mahasiswa tingkat akhir, ia juga harus membagi waktu antara skripsi dan latihan. “Kadang harus memilih antara kuliah atau latihan,” ujarnya.

Puncak drama terjadi di kategori Head to Head. Dalam satu hari, Dany harus turun di dua kelas sekaligus (R4 dan R6). Pertandingan berlangsung sengit, penuh tekanan mental, bahkan di salah satu sesi wajahnya terkena dayung hingga berdarah. Meski demikian, ia tetap melanjutkan lomba. “Hari itu benar-benar chaotic, tapi hasilnya terbayar dengan medali emas,” kenangnya.

Arung jeram bukan sekadar olahraga bagi Dany. Ia pertama kali mengenal sungai melalui UKM IMAPALA UNMER, organisasi pecinta alam yang banyak melahirkan atlet berprestasi. Dari sana ia bergabung dengan FAJI Kota Malang dan terus berkembang. “IMAPALA itu rumah pertama saya. Dari situ saya bisa kenal sungai, ikut FAJI, sampai akhirnya juara,” ungkapnya penuh syukur.

PORPROV 2025 menjadi momen terakhir bagi Dany karena batasan usia. Justru itulah yang membuat pencapaiannya terasa lebih istimewa. Ia menyebut enam medali ini sebagai salah satu pencapaian terbesar dalam hidupnya. Meski tidak lagi bisa tampil di PORPROV, Dany ingin tetap berkontribusi dengan membimbing generasi atlet berikutnya. “Sekarang fokusnya membantu adik-adik supaya bisa meraih prestasi lebih tinggi,” jelasnya. Menutup kisahnya, Dany menyampaikan pesan sederhana untuk mahasiswa UNMER lain: “Raihlah prestasi setinggi mungkin selagi masih jadi mahasiswa. Jangan takut mencoba, jangan malas belajar. Teruslah berjuang sampai nama kalian terpampang di postingan UNMER juga,” tuturnya sambil tersenyum.