BKAnews – Menulis naskah bisnis sering kali dianggap sebagai aktivitas yang kaku dan teknis. Namun, pandangan itu tidak berlaku bagi Try Seftyan Ferdyansyah Alhaq, mahasiswa semester dua Program Studi S1 Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Merdeka Malang. Bagi Try, penyusunan script justru merupakan seni dalam meramu strategi bisnis dengan sentuhan perasaan. Perspektif unik itulah yang mengantarkannya meraih Juara 2 Best Script pada ajang International Business Plan Competition ADAI #17 di Malaysia.
Meski masih duduk di semester awal, Try tidak ragu untuk langsung terjun ke dunia kompetisi. “Saya ingin memperdalam keterampilan menyusun rencana bisnis karena sejak lama bercita-cita menjadi pengusaha. Selain itu, dukungan dari Kaprodi dan Sekprodi Ekonomi Pembangunan juga memotivasi saya untuk berani mencoba hal-hal baru,” tuturnya.
Dalam tim, Try memegang dua peran sekaligus: pemimpin pengembangan produk sekaligus penulis utama naskah business plan. Produk yang diangkat berfokus pada isu kesehatan mental remaja, dengan konsep menciptakan produk yang bisa menjadi “teman” pendukung sekaligus penyemangat, termasuk melalui kampanye di media sosial. Bagi Try, menyusun script bukan sekadar merangkai poin-poin data. “Saya memandangnya seperti membuat sebuah cerita. Harus ada emosi yang tersampaikan ke audiens. Walaupun berbicara tentang bisnis, naskah tetap harus punya rasa,” ujarnya.
Script yang ia susun mengikuti struktur ketat dari panitia, mulai dari product background, specification, STP, financial analysis, hingga capital strategy. Bagian paling menantang menurutnya adalah penyusunan aspek keuangan dan kelayakan investasi. “Di situ saya harus benar-benar teliti agar hasilnya masuk akal dan kredibel. Sampai beberapa kali revisi,” jelasnya. Sebagai perwakilan tim di panggung Mila University, Try menyesuaikan naskah dengan gaya presentasi pribadinya. Namun ia tetap terbuka berdiskusi bila anggota tim lain yang maju, agar script dapat disesuaikan dengan kenyamanan masing-masing.
Untuk memperkuat naskah, Try banyak melakukan riset, mulai dari jurnal akademik hingga data resmi WHO mengenai kesehatan mental. Ia memanfaatkan pendekatan storytelling agar alur terasa hidup, sekaligus menyiapkan hook yang kuat di awal sebagai daya tarik juri dan audiens. “Yang paling berkesan tentu saat menggarap bagian keuangan. Saya harus bolak-balik revisi sampai benar-benar logis. Tapi justru dari situlah saya banyak belajar,” katanya.
Di akhir ceritanya, Try menekankan bahwa script adalah inti dari penyampaian ide. “Kalau naskahnya tidak jelas dan logis, presentasi juga tidak akan maksimal. Kekuatan sebuah presentasi sangat ditentukan dari seberapa baik script yang mendasarinya,” pungkasnya.