BKANews – Universitas Merdeka Malang kembali menegaskan identitasnya sebagai kampus yang humanis dan inklusif melalui penyelenggaraan Kumophoria 2026 di lingkungan FISIP pada Selasa (20/01). Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi tidak hanya menampilkan luaran akademik, tetapi juga menghadirkan praktik pemberdayaan sosial yang nyata. Momentum paling berkesan terlihat pada sesi fashion show yang mempertemukan mahasiswa dengan delapan anak Down Syndrome dari Komunitas Pejuang Mimpi. Kolaborasi tersebut menghadirkan panggung yang menempatkan seni sebagai ruang ekspresi tanpa batas, sekaligus merefleksikan nilai kesetaraan dan dukungan terhadap SDGs poin ke-10 tentang pengurangan kesenjangan.

Inisiator Komunitas Pejuang Mimpi, Sri Rahayu, menilai keterlibatan anak-anak dalam panggung kreatif seperti ini berperan penting dalam membangun rasa percaya diri dan keberanian tampil di ruang publik. Baginya, setiap individu memiliki potensi yang layak diapresiasi, dan kolaborasi dengan mahasiswa menjadi medium pembelajaran yang bermakna. Semangat UNMER Exceed turut tercermin melalui integrasi kurikulum dan praktik lapangan, diperkuat kemitraan lintas pihak sebagai bagian dari implementasi SDGs poin ke-17. Dengan demikian, kegiatan ini tidak berhenti sebagai seremoni, melainkan menjadi bentuk nyata pembelajaran kontekstual yang berdampak.

Selain panggung inklusif, Kumophoria 2026 juga menampilkan pameran fotografi mahasiswa Semester 1, pameran desain grafis Semester 3, serta pemutaran film dokumenter yang disambut ratusan pengunjung. Partisipasi 87 siswa dari 12 SMA/SMK turut memperluas fungsi acara sebagai ruang edukasi dan inspirasi bagi generasi muda. Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa kampus mampu memadukan kompetensi profesional dengan kepedulian sosial. Melalui kegiatan ini, UNMER Malang menegaskan bahwa kreativitas mahasiswa seharusnya menjadi jembatan yang menghubungkan dunia akademik dengan realitas masyarakat secara inklusif dan berkelanjutan.