
BKANews – Ribuan mahasiswa baru Universitas Merdeka (UNMER) Malang memeriahkan Gelar Budaya Nusantara & Inaugurasi 2025 yang digelar pada Sabtu (27/9/2025). Kegiatan dibuka dengan pelepasan merpati oleh Rektor UNMER Malang, Dr. Prihat Assih, SE., M.Si., Ak., CSRS., bersama jajaran pimpinan dan Presiden Mahasiswa sebagai simbol harapan untuk perdamaian dan persatuan di tengah keberagaman. Kirab budaya yang menempuh rute dari Lapangan Rektorat menuju Balai Merdeka menampilkan parade busana adat dari Sabang hingga Merauke, lengkap dengan yel-yel, koreografi, dan tabuhan perkusi yang mencerminkan semangat mahasiswa baru dalam merawat kebhinekaan bangsa.

Ketua pelaksana kegiatan, Ahmad Hasan (S1 Manajemen), menjelaskan bahwa tema “Citra Nusantara, Semangat Merdeka” dipilih untuk menegaskan pentingnya mengenal kekayaan budaya Indonesia sekaligus mempererat persaudaraan antar mahasiswa baru. Hal senada disampaikan oleh Presiden Mahasiswa UNMER Malang, Vernando (S1 Hukum), yang mengajak seluruh mahasiswa menjadikan keberagaman sebagai kekuatan untuk mewujudkan semangat UNMER Exceed: Bersatu, Berprestasi, dan Berdampak. Dalam sambutannya, Rektor UNMER Malang menegaskan bahwa keberagaman mahasiswa yang datang dari berbagai daerah dan negara adalah anugerah yang perlu dijaga bersama sebagai wujud nyata persatuan bangsa.

Rangkaian acara berlanjut dengan pertunjukan budaya dari tiap fakultas, mulai dari tema Kalimantan oleh Fakultas Psikologi, Sulawesi oleh Program Diploma Kepariwisataan, Papua oleh Fakultas Teknologi Informasi, Sumatera oleh Fakultas Teknik, Jawa oleh Fakultas Hukum, Nusa Tenggara oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis, hingga Bali oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Kemeriahan ditutup dengan penyerahan penghargaan, di mana Calvinina (FISIP) meraih Best Costume, sementara Fakultas Hukum menjadi Juara Umum. Melalui kegiatan ini, UNMER Malang menegaskan komitmennya sebagai kampus berdampak yang tidak hanya menonjol di bidang akademik, tetapi juga dalam membentuk karakter, menumbuhkan toleransi, serta melestarikan budaya—sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4 (Pendidikan Berkualitas), 10 (Mengurangi Ketimpangan), dan 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan).